Bandung Selatan Sering Mengalami Banjir

  Setiap kali turun hujan, di beberapa daerah Bandung bagian Selatan, pasti mengalami banjir bandang (banjir Cileunca). Ratusan Hektar (Ha) sawah dan ribuan rumah penduduk akan kebanjiran bahkan tenggelam. Hal ini dikarenakan Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum yang sudah cukup dangkal sehingga cepat kali air meluap, bila turun hujan.

Aliran sungai Citartuem dan anak sungainya yang melintasi beberapa daerah Kota Bandung,  dan Kabupaten Bandung serta Kab. Bandung Barat, merupakan daerah yang sering kali dilanda banjir. Sampai saat ini pihak Dinas PSDA Jabar bekerjasama dengan Pemda setempat, telah berupaya semaksimal mungkin untuk mengantisipasi meluasnya area banjir.  Hal ini dikatakan Kadis PSDA Jabar, H. Iding Srihadi kepada wartawan dalam dialog terbuka dialog  terbuka didampingi Ketua Himpunan Ahli Teknik Hidraulik Indonesia (HATGI) Cabang Bandung,  Yadi Suryadi,  di Gedung Kertamukti, baru-baru ini dikantor PSDA Jabar.

Dikatakan, masalah Banjir sampai kini belum ada solisi yang tepat untuk mengatasinya, namun berdasarkan hasil observasi dan penelitian,  salah satu solusinya adalah melakukan revitalisasi Curug Jompong dan pembuatan waduk-waduk atau dilakukan konversi lahan kering di daerah hulu Citarum.

Bila dilakukan reviltalisasi Jurug Jompong dan pembuatan waduk-waduk, akan mengeluarkan biaya yang cukup besar, bahkan biaya revitalisasi Jurug Jompong berdasarkan kajian, diperkirakan akan menghabiskan dana sebesar Rp.700 miliar, sedangkan untuk membanguan 5 waduk diperkirakan memakan dana sebesar Rp.500 miliar,  per-waduk sebesar Rp.100 miliar, sehingga secara keseluruhan akan menghabiskan dana sebesar Rp. 1,2 triliun.

“ Memang biaya yang cibutuhkan cukup besar, namun bila tidak cepat diatasi, banjir tahunan akan terus terjadi bahkan area banjir akan terus meluas”, ujarnya.

Berdasarkan hasil kajian  komprehensif  Puslitbang SDA tahun 2006, bahwa  apabila Curug Jompong diturunkan sampai 3 m atau memperbesar bukaan Curug Jompong kearah samping serta melaksanakan normalisasi sungai Citarum, maka diperkirakan dapat menurunkan elavasi banjir di Dayeuhkolot setinggi 1,68 m, pada elavasi banjir 658,53.

Area banjir akan semakin berkurang apabila 4 buah waduk dibanguan ( total volume : 2.088.238 m3) maka volume ganangan di Dayeuhkolot turun menjadi 3.495.362 m3, dengan tinggi genangan : 0,83 m.

Lebih lanjut Iding mengatakan, dalam mengatasi banjir tahunan,  sebenarnya pemerintah telah berupaya untuk menanggulangi banjir Citarum, diantaranya melakukan normalisasi sungai Citarum dan anak-anak sungainya, pembuatan tebing, tanggul banjir, sudetan, jalan inspeksi dan pembangunan infrastruktur lainnya. Termasuk juga melakukan tehabilitasi Hutan secara terus menerus dan berkesinambungan.

Menurut hasil kajian kami (Dinas PSDA Jabar-red),  jalan keluar terbaik tetaplah konversi lahan kosong di daerah aliran sungai, bauk yang berwujud semak belukar ataupun tanaman sayuran yang tidak mampu menangkap air. Dianas PSDA mencatat,  setidaknya ada 438,9 km2 lahan yang dapat dikonversi dengan potensi penurunan debit air puncak dari 6,2 km ke arah hulu.

Sementara itu, Yadi Suryadi, menilai, apapun proyek yang terkait dengan Curug Jompong harus diperhitungkan secara mateng, apakah akan bermanfaat benar bagi penanganan banjir. Karena berdasarkan simulai hidrograf, penurunan elavasi Curug Jompong hingga 5 meterpun tidak akan memberikan pengaruh signifikan bagi penguruangan cakupan banjir.

Memang ada pengurangan dibeberapa tempat, namun tidak akan lebih dari 6,2 km kearah hulu.Untuk itu, jalan yang terbaik adalah melakukan konversi tata lahan dan pembuatan waduk secara serentak, tandas Yadi.

~ oleh dezradikky di/pada Mei 19, 2008.

Tinggalkan Balasan

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.